Jemput Mimpi di Pelosok Bandung: Kisah Relawan Gaungkan Integritas Menembus Batas

KABUPATEN BANDUNG – Langkah kaki para guru relawan membelah jalan di Desa Karangsari, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Pagi itu, Kamis (1/10), suasana riuh nan hangat memecah sunyinya area perbukitan saat para insan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melepaskan sejenak atribut formal mereka, hadir sebagai guru dalam program ‘KPK Mengajar’.

Di SD Negeri (SDN) Sirnasari—sekolah dasar yang berdiri sejak tahun 1976 itu, para relawan menyaksikan langsung potret nyata infrastruktur pendidikan di daerah, yang berjarak sekitar empat jam perjalanan dari ibu kota.

Dengan hanya 4 ruang kelas untuk 174 siswa serta ditopang 7 guru, yang mayoritas berstatus honorer, para murid harus bergantian jam belajar dari pagi hingga sore hari. Tak jauh, fasilitas perpustakaan berdiri dalam kondisi memprihatinkan, yang terhubung jalan setapak tanah yang licin saat hujan.

Kondisi serupa juga dijumpai di SDN Mekarsari, di mana lorong sempit disulap menjadi ruang kelas bagi para siswa. Namun, di balik terbatasnya sarana sekolah, tak terlihat raut sedih di wajah anak-anak—binar mata dan senyum tulus mereka menyambut kehadiran insan komisi dengan semangat membuncah.

Kepala Satuan Tugas pada Direktorat Sosialisasi dan Kampanye (Soskam) KPK, Medio Venda Sukarta, mengatakan ‘KPK Mengajar’ ingin menciptakan pendidikan antikorupsi yang inklusif serta dapat diakses seluruh lapisan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia, khususnya pedalaman.

“Pendidikan antikorupsi tidak boleh hanya menjadi milik mereka yang beruntung di perkotaan. Ia harus hadir secara inklusif hingga ke pelosok, menjadi benteng moral sejak dini,” tutur Medio.

‘KPK Mengajar’ di Kabupaten Bandung Barat ini dilandasi semangat menghadirkan negara dan nilai-nilai integritas secara inklusif hingga ke garda terdepan pendidikan dasar. Program ini sendiri berawal dari rangkaian perjalanan Jelajah Negeri Bangun Antikorupsi (JNBA), yang merupakan program unggulan Direktorat Soskam KPK.

Sepanjang Mei hingga Agustus 2026, ekspedisi JNBA telah singgah di 10 titik sekolah di pelosok Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Usai tuntas menyisir kawasan timur Indonesia, program ini memperluas jangkauan ke wilayah Jabodetabek, termasuk menyapa para siswa Sekolah Yayasan Pondok Domba di kolong jembatan tol Penjaringan, Jakarta Utara dan Kalijodo, Jakarta Barat.

“Melihat apresiasi cukup tinggi dari masyarakat dan antusiasme dari insan KPK, kami memutuskan meneruskan program ini di DKI Jakarta dan Kabupaten Bandung Barat,” imbuh Medio.

Lebih jauh, kata Medio, terdapat beberapa kriteria sekolah yang dipilih untuk “KPK Mengajar”. Pertama, keterbatasan infrastruktur; aksesibilitas sekolah yang jauh dari perkotaan; keterbatasan tenaga pendidik; hingga keistimewaan peserta didik yang sebagian besar berasal dari keluarga dengan tingkat kemiskinan ekstrem.

Semai Harapan Lewat Goresan Cita-cita

Di dalam ruang kelas, keceriaan memuncak saat nilai-nilai integritas dikenalkan lewat cara yang ramah anak dan menyenangkan. Lewat ‘Jumat Bersepeda KK’ (Jujur, Mandiri, Tanggung Jawab, Berani, Sederhana, Peduli, Disiplin, Adil, dan Kerja Keras), implementasi nilai antikorupsi disulap menjadi deretan permainan yang penuh gelak tawa.

Para relawan mengajak anak-anak melompati rintangan lewat simulasi permainan ‘Immersive Mario Bros’ guna melatih kerja keras, melempar benang membentuk “Jaring Integritas” guna memupuk kepedulian, hingga menguji konsentrasi lewat permainan “Sikut, Sikat, Sakit.” Tak hanya itu, penayangan film pendek interaktif turut menyulut keberanian mereka guna membiasakan perilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari.

Usai menyemai 9 nilai antikorupsi lewat aksi bermain dan belajar, kegiatan bermuara pada sesi reflektif yang menyentuh hati, yaitu “Pohon Harapan.” Di atas lembaran kertas sticky notes, jemari mungil para siswa mulai menggoreskan cita-cita terbaik mereka.

Tulisan-tulisan polos, seperti keinginan menjadi dokter yang jujur, polisi bertanggung jawab, hingga guru yang adil ditempelkan satu per satu pada bagan pohon besar di papan tulis depan kelas. Goresan cita-cita itu bukan sekadar impian masa depan, melainkan janji integritas yang siap mereka rawat hingga dewasa.

“Kami percaya hanya dengan pendidikan yang layak, mereka dapat keluar dari jerat kemiskinan. Kami berharap ‘KPK Mengajar’ dapat memenuhi kebutuhan belajar mereka di sana,” ucap Medio.

Medio berharap seluruh kegiatan “KPK Mengajar” mampu menjadi memori baik bagi peserta didik yang sekolahnya disambangi. Selain itu, ia berharap dapat memberikan kesan positif serta pesan berarti bagi para peserta didik agar terus terngiang dan mengingatkan mereka agar terus membentengi diri dari perilaku koruptif.

Suara Hati Relawan: Mengajar, Belajar, dan Sentuh Realita

‘KPK Mengajar’ di Kabupaten Bandung Barat mengukir catatan khusus, sebab untuk pertama kalinya, Direktorat Soskam membuka program relawan (volunteer) bagi insan komisi. Pasalnya, dari 40 pendaftar, terpilih 12 insan dari berbagai divisi yang terjun langsung merasakan tantangan mengajar di garis depan.

Pengalaman langka berinteraksi langsung dengan anak-anak di tengah keterbatasan fasilitas sekolah, menyisakan kesan mendalam bagi para relawan yang terlibat. Rasa haru, tantangan, hingga pelajaran berharga terpatri dalam benak dan ingatan mereka.

“Saya begitu terharu ketika melihat senyum tulus anak-anak SDN Mekarsari, yang memiliki harapan besar untuk menjadi pemimpin yang jujur,” ujar salah satu guru relawan, Mukhammad Maulana Fajri dari Biro Hubungan Masyarakat (Humas) KPK.

Lebih lanjut, Fajri menyebut sebagian besar siswa bahkan berkeinginan menjadi orang baik dan jujur dalam segala profesi. “Rasanya, jika ada lagi ‘KPK Mengajar’ di wilayah dengan keterbatasan akses, saya bersemangat menjadi relawan kembali agar bisa menginterpretasikan nilai-nilai antikorupsi bagi anak-anak hebat penerus bangsa,” tutup Fajri.

Pengalaman berharga turut dirasakan Nanang Dwi Prasetyo dari Biro Umum KPK. Ia menyebut keikutsertaannya sebagai guru relawan, menjadi wadah menyalurkan jiwa sosial dan kegiatan edukatif untuk anak-anak masa depan bangsa.

“Kesempatan ini luar biasa, karena untuk pertama kalinya unit di luar Dikmas dapat bertugas resmi pada salah satu trisula antikorupsi, yaitu pendidikan,” ucapnya.

Tak sekadar memenuhi tugas insan komisi, Nanang turut merasakan langsung realita di lapangan—di mana masih terdapat sekolah-sekolah yang perlu perhatian khusus pemerintah daerah (pemda). Bagi Nanang, di tengah segala keterbatasan itu, ia justru melihat semangat anak-anak yang terus berkobar demi mengenyam bangku pendidikan.

“Lihat lah betapa  tulus anak-anak ini. Mereka sangat butuh sarana dan prasarana memadai. Semangat mereka sungguh berkobar di tengah segala keterbatasan. Seharusnya, kualitas pendidikan juga diutamakan, karena ini kunci masa depan bangsa,” pesan Nanang.

Pesan penuh harapan turut disampaikan salah satu guru relawan dari Direktorat Deteksi dan Analisis (DNA) KPK, Baskara (bukan nama asli), khususnya bagi para tenaga pendidik di sana. Ia berpesan agar para guru tak kenal lelah, mengabdi serta membersamai peserta didik dalam mewujudkan cita-cita mereka kelak.

“Untuk bapak dan ibu guru, semangat selalu mengabdi untuk pendidikan. Semangat selalu mendidik, agar kelak anak-anak ini menjadi penerus bangsa yang bermanfaat dan membanggakan,” tuturnya.

Tak lupa, ia turut berpesan kepada pemerintah agar pendidikan menjadi prioritas paling utama, khususnya bagi sekolah di daerah pelosok. “Saya berharap pemerintah dan Kementerian Pendidikan, mampu memprioritaskan sekolah seperti ini. Selain itu, sejahterakan lah guru Indonesia agar mampu mencetak generasi emas bangsa,” tutupnya.

KPK berharap kehadiran ‘KPK Mengajar’ mampu memantik semangat menggaungkan pendidikan antikorupsi di mana pun, lewat media apa pun, dan oleh siapa pun di seluruh wilayah Indonesia. Pada akhirnya, KPK percaya pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu mengakar, bertumbuh, dan bersemi di seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Menutup rangkaian kegiatan di Kabupaten Bandung Barat, jajaran relawan guru ‘KPK Mengajar’ menyerahkan bantuan sarana pendidikan guna mendukung proses belajar mengajar di SDN Sirnasari dan SDN Mekarsari. Tawa, peluk hangat, dan lembar ‘Pohon Harapan’ yang tertempel di papan tulis kelas menjadi pengingat bagi semua, bahwa di atas bangku sekolah pedalaman terdapat cita-cita besar tentang Indonesia yang jujur dan adil, yang perlu terus dijaga bersama. kpk.go.id

Pos terkait